Makalah Solusi Permasalahan Lingkungan Hidup
Oleh: Fauzi Styobudi (Pendidikan IPS UNY)
A.
Solusi Mengenai Macam-macam Permasalahan Udara
1.
Pemanasan Global
a.
Tanam Pohon
Sebagaimana
ditulis oleh Wisnu Arya Wardhana (2010:154), “Satu pohon berukuran agak besar
dapat menyerap 6 kg
per
tahunnya. Dalam seluruh masa hidupnya, satu batang pohon dapat menyerap
1 ton
b.
Berpergian yang
Ramah Lingkungan
Cobalah
untuk berjalan kaki, menggunakan telekonferensi untuk rapat, atau pergi
bersama-sama dalam satu mobil. Bila memungkinkan, gunakan kendaraan yang
menggunakan bahan bakar alternatif. Setiap 1 liter bahan bakar fosil yang
dibakar dalam mesin mobil menyumbang 2,5 kg
.
Bila jaraknya dekat dan tidak terburu waktu, anda bisa memilih kereta api
daripada pesawat. Menurut IPCC, bepergian dengan pesawat menyumbang 3-5% gas
rumah kaca.
c.
Gunakan Lampu Hemat Energi
Bila Anda mengganti
1 lampu di rumah Anda dengan lampu hemat energi, Anda dapat menghemat 400 kg
dan lampu hemat energi
10 kali lebih tahan lama daripada lampu pijar biasa.
d.
Gunakan Kipas
Angin
AC
yang menggunakan daya 1.000 Watt menyumbang 650 gr
per
jamnya. Karena itu, mungkin Anda bisa mencoba menggunakan kipas angin.
e.
Daur Ulang
Sampah Organik
Tempat Pembuangan Sampah (TPA) menyumbang 3% emisi
gas rumah kaca melalui metana yang dilepaskan saat proses pembusukan sampah.
Dengan membuat pupuk kompos dari sampah organik (misal dari sisa makanan,
kertas, daun-daunan) untuk kebun Anda, Anda bisa membantu mengurangi masalah
ini.
f.
Jangan Menebang Pohon Sembarangan
Pohon merupakan penghasil gas
(oksigen) terbesar di dunia. Setiap hari kita
bernafas membutuhkan Oksigen, dan pohon-pohonlah yang setiap harinya
menyediakan oksigen untuk kita. Semakin sedikit pohon akan menyebabkan gas
(karbon dioksida) bisa dengan leluasa
berkeliaran dan akhirnya membuat bumi semakin panas. Terlepas dari itu kita
bernafas menggunakan oksigen tanpa adanya oksigen mungkin kita tidak akan bisa
hidup sampai sekarang.
2.
Polusi Udara
a. Penggantian Bahan Bakar
Pemakaian bahan bakar fosil (terutama
batubara dan minyak bumi) akan menghasilkan CO yang pada akhirnya akan menjadi
gas rumah kaca berupa gas
. Hal
ini lah yang akan menyebabakan polusi udara, entah itu dari kendaraan bermotor
ataupun pabrik-pabrik .
Pemakaian bahan bakar fosil ini
pada numumnya untuk pembangkit tenaga listrik yang diperlukan untuk
keperluan industri dan kendaraan
bermotor. Pada umumnya sulit mencari bahan bakar yang relatif bersih untuk
menggantikan bahan bakar fosil untuk pembangkit tenaga listrik, misalnya dengan
gas
. Hal ini berbeda dengan
pemakaian bahan bakar fosil untuk keperluan rumah tangga, yang lebih mudah, yaitu
dengan menggunakan gas bumi sebagai pengganti. Mengenai hal ini, pemerintah sudah
melakukan konfensi minyak tanah dengan gas LPG. Memang sudah saatnya
memanfaatkan energi alternatif untuk menggantikan bahan bakar fosil.
Energi
alternatif ini berupa :
1)
Energi air
(Hydro Power Energy)
2)
Energi pasang
surut (Tidal Energy)
3)
Energi gelombang
laut (Wave Power Energy)
4)
Energi panas
laut (Ocean Thermal Energy Confention, otec)
5)
Energi angin
(Wind Energy)
6)
Energi panas
bumi (Geotermal Energy)
7)
Energi panas
matahari (Solar Cell Energy)
8)
Energi nuklir
(Nuclear Energy)
b. Kurangi
Menggunakan Kendaraan Pribadi
Banyaknya
pemakaian kendaraan pribadi akan menyebabkan borosnya penggunaan bahan bakar.
Kita semua tau bahwa setiap kendaraan berbahan bakar minyak akan mengeluarkan
gas pembuangan berupa
dan CO, gas-gas ini bila dalam jumlah yang
besar dapat menimbulkan polusi udara yang akhirnya membuat terjadinya global
warming semakin parah. Selama anda masih bisa untuk menggunakan kendaraan umum,
gunakanlah kendaraan umum, hanya gunakan kendaraan pribadi saat anda memang
benar-benar membutuhkannya.
3.
Penipisan Ozon
a.
Mengurangi
Pemakaian Mobil Pribadi
Cara
ini adalah cara yang paling sederhana yang bisa kamu lakukan setiap hari. Emisi
yang dikeluarkan oleh mobil yang kamu kendarai membahayakan keberadaan lapisan
ozon di atmosfer. Ada banyak alternatif transportasi yang bisa kamu gunakan
untuk bepergian. Naik bus, berjalan kaki, bersepeda atau nebeng dengan teman
akan mengurangi produksi emisi kendaraan. Kamu juga bisa mengganti mobil kamu
dengan mobil hybrid atau mobil dengan mesin nol emisi.
b.
Menggunakan
Pembersih dalam Rumah Tangga yang Bersahabat
Penggunaan produk pembersih yang natural adalah cara
yang tepat untuk mencegah penipisan ozon. Banyak dari produk pembersih dalam
rumah tangga yang menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat merusak ozon. Banyak
sekali supermarket yang menjual produk-produk pembersih dengan bahan yang bebas
racun dan dibuat dari bahan-bahan alami.
c.
Tidak
Menggunakan Alat-alat yang mengeluarkan Gas CFC
CFC atau Cloro Fluro Carbon pada dewasa ini sering
digunakan untuk alat-alat pendingin ruangan, lemari es, bahan pembuatan
plastik, dan lain-lain. CFC sangat berbahaya bagi lapisan ozon karena dapat
menipiskan ozon dan membuat lubang ozon. CFC bergerak perlahan ke dalam
Stratosfer. Molekul CFC terurai setelah bercampur dengan sinar UV, dab
membebaskan atom klorin. Atom Klorin ini berupaya memusnahkan ozon dan membuat
lubang ozon. Maka dari itu gunakan AC atau Lemari Es yang tidak mengandung CFC
d.
Stop Penggunaan
Nitrous Oxide
Selama ini CFC selalu dijadikan pokok penyebab dari
menipisnya lapisan ozon, tapi ternyata ada lagi bahan kimia lain yang juga
merusak ozon. Nitrous oxide adalah salah satu penyebab penipisan lapisan ozon
setelah CFC.
B.
Mengatasi Macam-macam
Permasalahan Air
1.
Kerusakan Terumbu Karang
a.
Penangkapan
Ikan tidak Menggunakan Bahan Peledak
Praktek penangkapan ikan dengan bom
dan racun akan berdampak buruk bagi kehidupan terumbu karang. Hal ini
dikarenakan ledakan yang dihasilkan dari bom ikan sangat besar, tidak hanya
ikan yang sekarat tapi terumbu karang juga akan mati. Seperti yang ditulis oleh
Prof. Dr. Zoer’aini Djamal Irawan, M.Si (2012:132-134), “Pada terumbu karang
terdapat produsen pertama yang sangat banyak yaitu berupa ganggang. Ganggang
ini melakukan proses fotosintesis dengan cepat, di mana hasil fotosintesis
tersebut sebagai sumber energi bagi binatang-binatang karang”.
Dalam upaya
meminimalisasi penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, dengan menggunakan
bahan peldak (bom), adalah:
1) Pengembangan Mata Pencaharian
Masyarakat pesisir
(nelayan) dikategorikan masih miskin dan memiliki tingkat pendidikan yan sangat
rendah. Perilaku masyarakat yang cenderung destruktif sangat dipengaruhi oleh
faktor ekonomi (kemiskinan) dalam memenuhi kebutuhannya dan diperparah dengan
sifat keserakahan dalam mendapatkan hasil yang maksimal walaupun ditempuh
dengan cara-cara yang merugikan karena bukan saja merusak lingkungan
ekosistem terumbu karang saja tetapi juga memutus rantai mata pencaharian
anak cucu. Bukan hanya itu, faktor rendahnya tingkat pendidikan juga
mempengarhi perilaku masyarakat tersebut. Dengan alternatif mata pencaharian
(tambahan) diharapkan dapat memberikan nilai tambah sehingga masyarakat pesisir
(nelayan) destruktif akan berkurang.
2) Penegakan Hukum
Secara umum maraknya
kegiatan penangkapan ikan dengan merusak di beberapa daerah adalah lemahnya
penegakan hukum. Beberapa kasus yang tidak diselesaikan secara baik dan tuntas
dan transparan memicu perilaku masyarakat. Ketidakpuasan masyarakat akibat
penanganan pelanggaran tersebut semestinya diperbaiki mulai dari aparat
penegakan hukum yang terkait.
3) Pendidikan dan Penyadaran tentang Lingkungan
Sebagaimana yang
dipaparkan dipoint pertama di atas, dimana secara umum masyarakat pesisir
(nelayan) terutama yang diindikasikan sebagi pelaku penangkapan ikan dengan
merusak tersebut memiiki pendidikan rendah sehingga pengetahuan tentang pentingnya
ekosistem terumbu karang terbatas.
2.
Kekeringan
a.
Pembuatan Embung
Sebagai
penampung air hujan, embung dapat menjadi penyedia air pada saat musim kemarau
tiba, terutama di awal musim kemarau. Keberadaan embung dapat menyelamatkan
tanaman yang ”terjebak” oleh datangnya musim kemarau. Ketersediaan air dalam
embung tergantung dari kapasitas embung itu sendiri. Dengan kata lain, semakin
besar kapasitas embung, semakin lama air yang tersedia dan semakin banyak lahan
yang bisa diairi.
b.
Memperbaiki Saluran
dan Sarana Irigasi
Dewasa
ini banyak sekali saluran irigasi yang kondisinya sudah rusak, temboknya
retak-retak, dan lain-lain. Kondisi seperti ini akan memperbanyak kebocoran air
di perjalanan. Sebab, air akan banyak meresap dan terbuang ke dalam tanah
sehingga semakin ke hilir debit airnya makin berkurang. Karena itu, perbaikan
saluran yang rusak dapat mempertahankan debit air dari hulu hingga ke tempat
tujuan, hilir.
c.
Mengatasi Waduk
dari Pendangkalan
Salah
satu permasalahan yang dihadapi dalam pemeliharaan waduk adalah terjadinya
pendangkalan. Pada tahap selanjutnya, pendangkalan dapat mengurangi kapasitas
waduk dalam manampung volume air sehingga pada musim kemarau waduk cepat
mengering. Salah satu penyebab pendangkalan adalah adanya sedimentasi butiran
tanah yang di bawa oleh aliran sungai dari daerah hulu akibat rusaknya
ekosistem hulu.
d.
Melakukan
Penghijauan dan Mengurangi Konversi Lahan di daerah Hulu
Berkaitan
dengan pendangkalan waduk, penghijauan dapat mengurangi terjadinya sedimentasi.
Tanaman yang ditanam pada lahan-lahan kosong dapat menjaga/mengikat butiran
tanah saat terjadi hujan. Tanaman yang rapat juga dapat meningkatkan kemampuan
tanah dalam menyerap air hujan, mengurangi aliran permukaan dan penguapan
sehingga air tanah akan tersedia lebih lama. Dengan demikian, pasokan air untuk
waduk tetap kontinyu dengan fluktuasi debit yang relatif kecil.
Sebaliknya,
konversi lahan di derah hulu dapat mengurangi kemampuan lahan dalam menyerap
air hujan. Akibatnya, pada saat musim hujan, air akan lebih banyak dialirkan
melalui permukaan dan pada saat musim kemarau air cepat mengering sehingga
pasokan air ke waduk tidak kontinyu.
3.
Banjir
a.
Mengatasi Banjir
dengan Memperbanyak Ruang Terbuka Hijau
Ketersediaan
ruang terbuka hijau khususnya di kota-kota besar seharusnya minimal 30% dari
luas kota. Namun kenyataannya, ruang terbuka hijau yang ada hanya mencapai 10
%. Ruang terbuka hijau dapat menjadi area bagi penyerapan air ketika hujan
turun dan tentu hal itu dapat menjadi cara mengatasi banjir. Selain itu ruang
terbuka hijau dapat bermanfaat bagi kesehatan dan menciptakan udara yang
bersih, menjadi arena bermain, olahraga dan tempat komunikasi public.
b.
Mengatasi Banjir
dengan Menanam Pohon
Menanam pohon dapat dilakukan di pekarangan rumah, sekolah,
kantor dan tempat-tempat umum lainnya. Keberadaan pohon atau tanaman dapat
menunjang terciptanya kota yang hijau, mengurangi polusi udara, mengurangi
jumlah debit air hujan yang mengalir di permukaan tanah, dapat mengatasi banjir
dan menjadikan langit yang biru.
c.
Mengatasi Banjir dengan Membuat Lubang
Resapan Biopori (LRB)
Salah
satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi banjir adalah dengan membuat
lubang resapan biopori (LRB). Banyak masyarakat dikota-kota besar seperti
Jakarta yang belum memahami pengertian biopori, manfaat dari Lubang Resapan Biopori dan cara
membuatnya. Hal tersebut karena masih minimnya sosialisasi-sosialisasi yang
dilakukan oleh berbagai pihak baik itu Pemerintah maupun Lembaga atau
Organisasi-organisasi Masyarakat. Meskipun cara tersebut belum umum diketahui
dan dilakukan oleh masyarakat, namun dampaknya dalam mengatasi permasalahan
banjir sangat signifikan. Lubang tersebut dapat dibuat dengan menggunakan alat
manual dengan kedalaman vertical antara 80-100 cm dengan diameter antara 10 –
30 cm. Setelah anda buat lubangnya, selanjutnya anda dapat mengisi lubang
tersebut dengan batu kerikil pada dasarnya dan ditambahkan dengan berbagai
macam sampah organic atau sampah dedaunan. Beberapa pengusaha sudah menjual
alat biopori dengan berbagai macam bentuk dan fungsi. Melalui LRB tersebut, air
hujan atau air dari saluran pembuangan akan terserap sehingga jumlah air yang
mengalir dijalan-jalan atau dipermukaan tanah akan berkurang.
d.
Mengatasi Banjir
dengan Penanganan Sampah yang Baik
Perlu upaya penanganan yang baik terhadap sampah
diantaranya membuang sampah pada tempatnya serta memilah sampah organik dan non
organik. Saat ini sudah banyak tersedia dan dijual tempat sampah dengan berbagai
bentuk dan fungsinya. Ada tempat
sampah yang dijual untuk sampah organik/sampah basah, ada juga untuk sampah non
organik/sampah kering.
Merubah kebiasaan masyarakat untuk melakukan hal-hal
tersebut memang tidak mudah. Masih banyak masyarakat disekitar kita yang
membuang sampah di sungai,
kali atau saluran (got) sehingga menyebabkan fungsi dari saluran-saluran air
tersebut menjadi terganggu dan hal itu dapat menyebabkan terjadinya banjir.
e.
Mengatasi Banjir
dengan Tidak Membangun Pemukiman di sekitar Sungai
Akibat dari tingginya tingkat urbanisasi dan
kepadatan penduduk sedangkan di satu sisi ketersediaan lahan untuk pemukiman
dan rendahnya tingkat ekonomi masyarakat menyebabkan banyak masyarakat yang
menggunakan area-area hijau dan daerah aliran sungan (DAS) sebagai tempat
pemukiman. Akibatnya kemampuan area-area hijau untuk menyerap air dan daya
tampung sungai menerima jumlah air yang mengalir menjadi berkurang.
Untuk
mengatasi banjir maka perlu
upaya dari Pemerintah untuk menekan keberadaan dari pemukiman-pemukiman di
area-area tersebut dan tentu hal tersebut harus juga ditunjang oleh kesadaran
dari masyarakat sendiri.
C.
Mengatasi
Macam-macam Permasalahan Tanah
1.
Pencemaran Tanah
a.
Remediasi
Remediasi
adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis
remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site).
Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah
dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.
Pembersihan
off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah
yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat
pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap,
kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat
pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi
pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.
b.
Bioremediasi
Bioremediasi
adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme
(jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat
pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida
dan air). Menurut Dr. Anton Muhibuddin, salah satu mikroorganisme yang
berfungsi sebagai bioremediasi adalah jamur vesikular arbuskular mikoriza
(vam). Jamur vam dapat berperan langsung maupun tidak langsung dalam remediasi
tanah. Berperan langsung, karena kemampuannya menyerap unsur logam dari dalam
tanah dan berperan tidak langsung karena menstimulir pertumbuhan mikroorganisme
bioremediasi lain seperti bakteri tertentu, jamur dan sebagainya.
2.
Tanah Longsor
a.
Penghijauan
Lahan Gundul
Penghijauan lahan gundul adalah bagian dari usaha
konserfasi alam atau pelestarian alam yang telah rusak akibat ulah manusia.
Penghijaua lahan gundul berdampak antara lain pada:
1)
Mengurangi
bencana tanah longsor untuk daerah perbukitan dan mengurangi abrasi laut untuk
daerah lahan pantai.
2)
Menahan dan
menyeimbangkan permukiman air tanah, serta menahan intrusi air laut.
3)
Memelihara
keanekaragaman hayati
4)
Menaikkan kadar
oksigen dalam udara lingkungan
b.
Menutup Retakan dengan Tanah Lempung.
Retakan sering terjadi di daerah pegunungan. Hal ini jelas membahayakan
jika retakan ini terisi oleh air dan akan membuat tanah lonsor. Untuk mengatasi
hal ini adalah dengan menutup retakan ini dengan tanah lempung. Sebagaimana
kita ketahui tanah lempung mempunyai daya rekat yang tinggi. Hal ini berguna
untuk merekatkan kembali tanah yang terpisah karena retakan.
c.
Tidak Menebang Hutan di Lereng
Lereng adalah daerah yang rawan longsor karena kontur tanahnya yang miring.
Agar tanah di lereng tidak lonsor, butuh penahan yang berupa akar-akar pohon.
Di sinilah letak kegunaan pohon di daerah lereng. Maka berhati-hatilah jika
menebang pohon di daerah lereng.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar