SpongeBob SquarePants

Jumat, 28 Februari 2014

Solusi Permasalahan Lingkungan Hidup

Makalah Solusi Permasalahan Lingkungan Hidup
Oleh: Fauzi Styobudi (Pendidikan IPS UNY)

http://agungkyosuke.files.wordpress.com/2012/03/sampah-di-ciliwung.jpg



A.    Solusi Mengenai Macam-macam Permasalahan Udara
1.      Pemanasan Global
a.       Tanam Pohon
Sebagaimana ditulis oleh Wisnu Arya Wardhana (2010:154), “Satu pohon berukuran agak besar dapat menyerap 6 kg  per tahunnya. Dalam seluruh masa hidupnya, satu batang pohon dapat menyerap
1 ton ”. United Nations Environment Programme (UNEP) melaporkan bahwa pembabatan hutan menyumbang 20% emisi gas rumah kaca. Seperti kita ketahui, pohon menyerap karbon yang ada dalam atmosfer. Bila mereka ditebang atau dibakar, karbon yang pernah mereka serap sebagian besar justru akan dilepaskan kembali ke atmosfer. Maka, pikir seribu kali sebelum menebang pohon di sekitar Anda.
b.      Berpergian yang Ramah Lingkungan
Cobalah untuk berjalan kaki, menggunakan telekonferensi untuk rapat, atau pergi bersama-sama dalam satu mobil. Bila memungkinkan, gunakan kendaraan yang menggunakan bahan bakar alternatif. Setiap 1 liter bahan bakar fosil yang dibakar dalam mesin mobil menyumbang 2,5 kg . Bila jaraknya dekat dan tidak terburu waktu, anda bisa memilih kereta api daripada pesawat. Menurut IPCC, bepergian dengan pesawat menyumbang 3-5% gas rumah kaca.
c.       Gunakan Lampu Hemat Energi
Bila Anda mengganti 1 lampu di rumah Anda dengan lampu hemat energi, Anda dapat menghemat 400 kg  dan lampu hemat energi 10 kali lebih tahan lama daripada lampu pijar biasa.
d.      Gunakan Kipas Angin
AC yang menggunakan daya 1.000 Watt menyumbang 650 gr  per jamnya. Karena itu, mungkin Anda bisa mencoba menggunakan kipas angin.
e.       Daur Ulang Sampah Organik
Tempat Pembuangan Sampah (TPA) menyumbang 3% emisi gas rumah kaca melalui metana yang dilepaskan saat proses pembusukan sampah. Dengan membuat pupuk kompos dari sampah organik (misal dari sisa makanan, kertas, daun-daunan) untuk kebun Anda, Anda bisa membantu mengurangi masalah ini.
f.        Jangan Menebang Pohon Sembarangan
Pohon merupakan penghasil gas  (oksigen) terbesar di dunia. Setiap hari kita bernafas membutuhkan Oksigen, dan pohon-pohonlah yang setiap harinya menyediakan oksigen untuk kita. Semakin sedikit pohon akan menyebabkan gas  (karbon dioksida) bisa dengan leluasa berkeliaran dan akhirnya membuat bumi semakin panas. Terlepas dari itu kita bernafas menggunakan oksigen tanpa adanya oksigen mungkin kita tidak akan bisa hidup sampai sekarang.

2.      Polusi Udara
a. Penggantian Bahan Bakar
              Pemakaian bahan bakar fosil (terutama batubara dan minyak bumi) akan menghasilkan CO yang pada akhirnya akan menjadi gas rumah kaca berupa gas . Hal ini lah yang akan menyebabakan polusi udara, entah itu dari kendaraan bermotor ataupun pabrik-pabrik .
              Pemakaian bahan bakar fosil ini pada numumnya untuk pembangkit tenaga listrik yang diperlukan untuk keperluan industri dan kendaraan bermotor. Pada umumnya sulit mencari bahan bakar yang relatif bersih untuk menggantikan bahan bakar fosil untuk pembangkit tenaga listrik, misalnya dengan gas . Hal ini berbeda dengan pemakaian bahan bakar fosil untuk keperluan rumah tangga, yang lebih mudah, yaitu dengan menggunakan gas bumi sebagai pengganti. Mengenai hal ini, pemerintah sudah melakukan konfensi minyak tanah dengan gas LPG. Memang sudah saatnya memanfaatkan energi alternatif untuk menggantikan bahan bakar fosil.
Energi alternatif ini berupa :
1)      Energi air (Hydro Power Energy)
2)      Energi pasang surut (Tidal Energy)
3)      Energi gelombang laut (Wave Power Energy)
4)      Energi panas laut (Ocean Thermal Energy Confention, otec)
5)      Energi angin (Wind Energy)
6)      Energi panas bumi (Geotermal Energy)
7)      Energi panas matahari (Solar Cell Energy)
8)      Energi nuklir (Nuclear Energy)
b.      Kurangi Menggunakan Kendaraan Pribadi
Banyaknya pemakaian kendaraan pribadi akan menyebabkan borosnya penggunaan bahan bakar. Kita semua tau bahwa setiap kendaraan berbahan bakar minyak akan mengeluarkan gas pembuangan berupa  dan CO, gas-gas ini bila dalam jumlah yang besar dapat menimbulkan polusi udara yang akhirnya membuat terjadinya global warming semakin parah. Selama anda masih bisa untuk menggunakan kendaraan umum, gunakanlah kendaraan umum, hanya gunakan kendaraan pribadi saat anda memang benar-benar membutuhkannya.

3.      Penipisan Ozon
a.      Mengurangi Pemakaian Mobil Pribadi
            Cara ini adalah cara yang paling sederhana yang bisa kamu lakukan setiap hari. Emisi yang dikeluarkan oleh mobil yang kamu kendarai membahayakan keberadaan lapisan ozon di atmosfer. Ada banyak alternatif transportasi yang bisa kamu gunakan untuk bepergian. Naik bus, berjalan kaki, bersepeda atau nebeng dengan teman akan mengurangi produksi emisi kendaraan. Kamu juga bisa mengganti mobil kamu dengan mobil hybrid atau mobil dengan mesin nol emisi.
b.      Menggunakan Pembersih dalam Rumah Tangga yang Bersahabat
Penggunaan produk pembersih yang natural adalah cara yang tepat untuk mencegah penipisan ozon. Banyak dari produk pembersih dalam rumah tangga yang menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat merusak ozon. Banyak sekali supermarket yang menjual produk-produk pembersih dengan bahan yang bebas racun dan dibuat dari bahan-bahan alami.
c.       Tidak Menggunakan Alat-alat yang mengeluarkan Gas CFC
CFC atau Cloro Fluro Carbon pada dewasa ini sering digunakan untuk alat-alat pendingin ruangan, lemari es, bahan pembuatan plastik, dan lain-lain. CFC sangat berbahaya bagi lapisan ozon karena dapat menipiskan ozon dan membuat lubang ozon. CFC bergerak perlahan ke dalam Stratosfer. Molekul CFC terurai setelah bercampur dengan sinar UV, dab membebaskan atom klorin. Atom Klorin ini berupaya memusnahkan ozon dan membuat lubang ozon. Maka dari itu gunakan AC atau Lemari Es yang tidak mengandung CFC
d.      Stop Penggunaan Nitrous Oxide
Selama ini CFC selalu dijadikan pokok penyebab dari menipisnya lapisan ozon, tapi ternyata ada lagi bahan kimia lain yang juga merusak ozon. Nitrous oxide adalah salah satu penyebab penipisan lapisan ozon setelah CFC.

B.     Mengatasi Macam-macam Permasalahan Air
1.      Kerusakan Terumbu Karang
a.       Penangkapan Ikan tidak Menggunakan Bahan Peledak
Praktek penangkapan ikan dengan bom dan racun akan berdampak buruk bagi kehidupan terumbu karang. Hal ini dikarenakan ledakan yang dihasilkan dari bom ikan sangat besar, tidak hanya ikan yang sekarat tapi terumbu karang juga akan mati. Seperti yang ditulis oleh Prof. Dr. Zoer’aini Djamal Irawan, M.Si (2012:132-134), “Pada terumbu karang terdapat produsen pertama yang sangat banyak yaitu berupa ganggang. Ganggang ini melakukan proses fotosintesis dengan cepat, di mana hasil fotosintesis tersebut sebagai sumber energi bagi binatang-binatang karang”.
Dalam upaya meminimalisasi penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, dengan menggunakan bahan peldak (bom), adalah:
1)      Pengembangan Mata Pencaharian
Masyarakat pesisir (nelayan) dikategorikan masih miskin dan memiliki tingkat pendidikan yan sangat rendah. Perilaku masyarakat yang cenderung destruktif sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi (kemiskinan) dalam memenuhi kebutuhannya dan diperparah dengan sifat keserakahan dalam mendapatkan hasil yang maksimal walaupun ditempuh dengan cara-cara yang merugikan karena bukan saja merusak lingkungan ekosistem terumbu karang saja tetapi juga memutus rantai mata pencaharian anak cucu. Bukan hanya itu, faktor rendahnya tingkat pendidikan juga mempengarhi perilaku masyarakat tersebut. Dengan alternatif mata pencaharian (tambahan) diharapkan dapat memberikan nilai tambah sehingga masyarakat pesisir (nelayan) destruktif akan berkurang.
2)      Penegakan Hukum
Secara umum maraknya kegiatan penangkapan ikan dengan merusak di beberapa daerah adalah lemahnya penegakan hukum. Beberapa kasus yang tidak diselesaikan secara baik dan tuntas dan transparan memicu perilaku masyarakat. Ketidakpuasan masyarakat akibat penanganan pelanggaran tersebut semestinya diperbaiki mulai dari aparat penegakan hukum yang terkait.
3)      Pendidikan dan Penyadaran tentang Lingkungan
Sebagaimana yang dipaparkan dipoint pertama di atas, dimana secara umum masyarakat pesisir (nelayan) terutama yang diindikasikan sebagi pelaku penangkapan ikan dengan merusak tersebut memiiki pendidikan rendah sehingga pengetahuan tentang pentingnya ekosistem terumbu karang terbatas.

2.      Kekeringan
a.      Pembuatan Embung
              Sebagai penampung air hujan, embung dapat menjadi penyedia air pada saat musim kemarau tiba, terutama di awal musim kemarau. Keberadaan embung dapat menyelamatkan tanaman yang ”terjebak” oleh datangnya musim kemarau. Ketersediaan air dalam embung tergantung dari kapasitas embung itu sendiri. Dengan kata lain, semakin besar kapasitas embung, semakin lama air yang tersedia dan semakin banyak lahan yang bisa diairi.
b.      Memperbaiki Saluran dan Sarana Irigasi
              Dewasa ini banyak sekali saluran irigasi yang kondisinya sudah rusak, temboknya retak-retak, dan lain-lain. Kondisi seperti ini akan memperbanyak kebocoran air di perjalanan. Sebab, air akan banyak meresap dan terbuang ke dalam tanah sehingga semakin ke hilir debit airnya makin berkurang. Karena itu, perbaikan saluran yang rusak dapat mempertahankan debit air dari hulu hingga ke tempat tujuan, hilir.

c.      Mengatasi Waduk dari Pendangkalan
              Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pemeliharaan waduk adalah terjadinya pendangkalan. Pada tahap selanjutnya, pendangkalan dapat mengurangi kapasitas waduk dalam manampung volume air sehingga pada musim kemarau waduk cepat mengering. Salah satu penyebab pendangkalan adalah adanya sedimentasi butiran tanah yang di bawa oleh aliran sungai dari daerah hulu akibat rusaknya ekosistem hulu.
d.     Melakukan Penghijauan dan Mengurangi Konversi Lahan di daerah Hulu
              Berkaitan dengan pendangkalan waduk, penghijauan dapat mengurangi terjadinya sedimentasi. Tanaman yang ditanam pada lahan-lahan kosong dapat menjaga/mengikat butiran tanah saat terjadi hujan. Tanaman yang rapat juga dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air hujan, mengurangi aliran permukaan dan penguapan sehingga air tanah akan tersedia lebih lama. Dengan demikian, pasokan air untuk waduk tetap kontinyu dengan fluktuasi debit yang relatif kecil.
            Sebaliknya, konversi lahan di derah hulu dapat mengurangi kemampuan lahan dalam menyerap air hujan. Akibatnya, pada saat musim hujan, air akan lebih banyak dialirkan melalui permukaan dan pada saat musim kemarau air cepat mengering sehingga pasokan air ke waduk tidak kontinyu.

3.      Banjir
a.      Mengatasi Banjir dengan Memperbanyak Ruang Terbuka Hijau
            Ketersediaan ruang terbuka hijau khususnya di kota-kota besar seharusnya minimal 30% dari luas kota. Namun kenyataannya, ruang terbuka hijau yang ada hanya mencapai 10 %. Ruang terbuka hijau dapat menjadi area bagi penyerapan air ketika hujan turun dan tentu hal itu dapat menjadi cara mengatasi banjir. Selain itu ruang terbuka hijau dapat bermanfaat bagi kesehatan dan menciptakan udara yang bersih, menjadi arena bermain, olahraga dan tempat komunikasi public.  
b.      Mengatasi Banjir dengan Menanam Pohon
Menanam pohon dapat dilakukan di pekarangan rumah, sekolah, kantor dan tempat-tempat umum lainnya. Keberadaan pohon atau tanaman dapat menunjang terciptanya kota yang hijau, mengurangi polusi udara, mengurangi jumlah debit air hujan yang mengalir di permukaan tanah, dapat mengatasi banjir dan menjadikan langit yang biru.
c.      Mengatasi Banjir dengan Membuat Lubang Resapan Biopori (LRB)
            Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi banjir adalah dengan membuat lubang resapan biopori (LRB). Banyak masyarakat dikota-kota besar seperti Jakarta yang belum memahami pengertian biopori, manfaat dari Lubang Resapan Biopori dan cara membuatnya. Hal tersebut karena masih minimnya sosialisasi-sosialisasi yang dilakukan oleh berbagai pihak baik itu Pemerintah maupun Lembaga atau Organisasi-organisasi Masyarakat. Meskipun cara tersebut belum umum diketahui dan dilakukan oleh masyarakat, namun dampaknya dalam mengatasi permasalahan banjir sangat signifikan. Lubang tersebut dapat dibuat dengan menggunakan alat manual dengan kedalaman vertical antara 80-100 cm dengan diameter antara 10 – 30 cm. Setelah anda buat lubangnya, selanjutnya anda dapat mengisi lubang tersebut dengan batu kerikil pada dasarnya dan ditambahkan dengan berbagai macam sampah organic atau sampah dedaunan. Beberapa pengusaha sudah menjual alat biopori dengan berbagai macam bentuk dan fungsi. Melalui LRB tersebut, air hujan atau air dari saluran pembuangan akan terserap sehingga jumlah air yang mengalir dijalan-jalan atau dipermukaan tanah akan berkurang.
d.      Mengatasi Banjir dengan Penanganan Sampah yang Baik
Perlu upaya penanganan yang baik terhadap sampah diantaranya membuang sampah pada tempatnya serta memilah sampah organik dan non organik. Saat ini sudah banyak tersedia dan dijual tempat sampah dengan berbagai bentuk dan fungsinya. Ada tempat sampah yang dijual untuk sampah organik/sampah basah, ada juga untuk sampah non organik/sampah kering.
Merubah kebiasaan masyarakat untuk melakukan hal-hal tersebut memang tidak mudah. Masih banyak masyarakat disekitar kita yang membuang sampah di sungai, kali atau saluran (got) sehingga menyebabkan fungsi dari saluran-saluran air tersebut menjadi terganggu dan hal itu dapat menyebabkan terjadinya banjir.

e.       Mengatasi Banjir dengan Tidak Membangun Pemukiman di sekitar Sungai
Akibat dari tingginya tingkat urbanisasi dan kepadatan penduduk sedangkan di satu sisi ketersediaan lahan untuk pemukiman dan rendahnya tingkat ekonomi masyarakat menyebabkan banyak masyarakat yang menggunakan area-area hijau dan daerah aliran sungan (DAS) sebagai tempat pemukiman. Akibatnya kemampuan area-area hijau untuk menyerap air dan daya tampung sungai menerima jumlah air yang mengalir menjadi berkurang.
Untuk mengatasi banjir maka perlu upaya dari Pemerintah untuk menekan keberadaan dari pemukiman-pemukiman di area-area tersebut dan tentu hal tersebut harus juga ditunjang oleh kesadaran dari masyarakat sendiri.

C.    Mengatasi Macam-macam Permasalahan Tanah
1.      Pencemaran Tanah
a.       Remediasi
Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.
Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.
b.      Bioremediasi
Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air). Menurut Dr. Anton Muhibuddin, salah satu mikroorganisme yang berfungsi sebagai bioremediasi adalah jamur vesikular arbuskular mikoriza (vam). Jamur vam dapat berperan langsung maupun tidak langsung dalam remediasi tanah. Berperan langsung, karena kemampuannya menyerap unsur logam dari dalam tanah dan berperan tidak langsung karena menstimulir pertumbuhan mikroorganisme bioremediasi lain seperti bakteri tertentu, jamur dan sebagainya.

2.      Tanah Longsor
a.       Penghijauan Lahan Gundul
Penghijauan lahan gundul adalah bagian dari usaha konserfasi alam atau pelestarian alam yang telah rusak akibat ulah manusia. Penghijaua lahan gundul berdampak antara lain pada:
1)      Mengurangi bencana tanah longsor untuk daerah perbukitan dan mengurangi abrasi laut untuk daerah lahan pantai.
2)      Menahan dan menyeimbangkan permukiman air tanah, serta menahan intrusi air laut.
3)      Memelihara keanekaragaman hayati
4)      Menaikkan kadar oksigen dalam udara lingkungan
b.      Menutup Retakan dengan Tanah Lempung.
Retakan sering terjadi di daerah pegunungan. Hal ini jelas membahayakan jika retakan ini terisi oleh air dan akan membuat tanah lonsor. Untuk mengatasi hal ini adalah dengan menutup retakan ini dengan tanah lempung. Sebagaimana kita ketahui tanah lempung mempunyai daya rekat yang tinggi. Hal ini berguna untuk merekatkan kembali tanah yang terpisah karena retakan.
c.       Tidak Menebang Hutan di Lereng
Lereng adalah daerah yang rawan longsor karena kontur tanahnya yang miring. Agar tanah di lereng tidak lonsor, butuh penahan yang berupa akar-akar pohon. Di sinilah letak kegunaan pohon di daerah lereng. Maka berhati-hatilah jika menebang pohon di daerah lereng.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar